Ibuk

Hai guys, tiba-tiba pengen cerita soal ibuk. Tiba-tiba kangen sama ibuk. Sebenarnya engga tiba-tiba sih, karena aku tu sering kangen ibuk. Cuma tiba-tiba jadi bener-bener melow gini dan pengen nulis.

Hampir tiap malam aku berdoa sebelum tidur, ibuk masuk ke mimpiku, aku kangen. Aku juga pengen ibuk ngomong ke aku, apa yg harus aku lakuin buat ayuna, karena sebenarnya yg pengen aku lakuin adalah sesuai keinginannya ibuk. Sampai sekarang aku udah ambil tindakan ke Ayuna pun, aku bilang dalam doa ku, semoga Allah sampaikan, kalau apapun yg aku lakuin ke Ayuna sekarang adalah buat kebaikan Ayuna, tentunya menurut aku. Semua yg aku lakuin ke Ayuna karena aku sayang banget sama dia, dan mau yg terbaik untuk dia. Mudah-mudahan ibuk setuju sama aku. Dan aku selalu bilang di dalam doaku, ‘buk, tolong kasih tau kalau kakak salah, buk. Datang ke mimpi kakak buk.’ Allah pasti sampaikan.

Buat yg pernah baca blog lamaku tentang ibuk, pasti tau sedekat apa aku sama ibuk. Sesayang apa aku sama ibuk.

Buat yg gatau ibuk itu siapa, ibu itu ibu sambungku. Ibu tiriku. Tp kalau orang tanya, aku ga pernah blg dia ibu sambungku. Dan aku selalui mengakui dia sebagai ‘ibuku’ ke orang-orang. Di tinggal ibuk memang bukan pertama kali di tinggal orangtua yg ku rasakan.

Mama meninggal saat aku masih kelas 10, 15 tahun yg lalu. Papa meninggal tahun lalu, saat masih suasana lebaran. Tapi karena mereka memang punya sakit bawaan yg sudah bertahun-tahun, aku sudah terbiasa mempersiapkan hatiku dengan apapun yg akan terjadi.

Ibuk dan papa menikah kurang lebih lima tahun yg lalu. Awalnya aku pikir, siapapun yang di nikahi papa, yang penting bisa urus papa dan sayang sama papa. Udah itu aja. Tapi ibuk, dia sayang sama kami semua, anak-anak papa. Di 2019 lahirlah Ayuna, menambah kebahagiaan dikeluarga kami. Tapi sayangnya, disaat Ayuna masih berumur 8 bulan, papa meninggalkan kami pergi ke surga. Aku udah bilangkan, aku udah lama mempersiapkan hatiku untuk itu, bahkan sejak mama masih ada, tentu yang paling sedih atas meninggalnya papa adalah ibuk.

Setelah kepergian papa, aku minta ibuk dan Ayuna tetap tinggal samaku. Aku bilang ke ibuk, kita sama-sama besarin Ayuna buk, tapi aku ga larang ibuk mau nikah lagi, mana tau ibuk ketemu jodoh lagi nanti.

Mimpi ibuk untuk ayuna itu besar. Ibuk mau ayuna sekolah yang tinggi. Ibuk gak mau ayuna jadi kayak dia. Dan aku selalu support semua mimpi ibuk untuk Ayuna.

Dari awal papa dan ibuk menikah, aku dan ibuk sudah dekat. Dan kami menjadi sangat-sangat dekat, bahkan seperti sahabat yg berbagi keluh kesah bersama setelah papa meninggal. Mungkin setelah papa ga ada, aku menjadi salah satu tumpuan hidupnya. Dan akupun jadi lebih perhatian ke ibuk, karena ga pengen dia kekurangan apapun setelah papa gak ada.

Ibuk itu wanita yg sehat. Makannya banyak dan ga milih-milih. Suka banget makan sayur dan rajin minum air puith. Kalo makan daging bbq-an ibuk paling suka sama seladanya.

Selain itu ibuk juga kuat kerja, tenaganya banyak, ga suka rebahan lama-lama, apa-apa mau di kerjain dan kerjanya cepat banget. Lima tahun kenal ibuk, hampir jarang ibuk sakit, apalagi sakit yg parah. Paling-paling demam, batuk, pilek, masuk angin, karena kecapean. Dan ibuk termasuk yg cepat recoverynya sehabis melahirkan Ayuna, padahal dia c-section. Emang pernah sekali dua kali asam lambungnya kambuh, padahal setauku dia ga pernah telat makan, tapi engga sakit yg sampe parah juga. Kalau udah makan obat dan istirahat cukup, sehari dua hari aja pasti sembuh. Jadi, di tinggal ibuk adalah hal yang paling mendadak dan ga pernah terpikirkan dan terbayangkan sama sekali. Aku ga ada persiapan apa-apa. Bahkan sampai saat aku nulis blog ini, which is udah beberapa bulan ibuk pergi, hatiku masih belum siap. Makanya aku selalu berdoa biar ibuk masuk ke mimpiku.

Awalnya bermula dari ibuk yg ga pulang beberapa hari karena opung (mamaknya ibuk) sakit. Ibuk emang sering kerumah opung, ntah karena opung sakit, atau emang mau main-main aja kesana. Tapi ga pernah lebih dari dua harian, karena ibuk bilang Ayuna ga bisa tidur disana, kepanasan terus. Jd karena udah tiga harian ibuk ga pulang, aku jadi khawatir apa opung sakitnya parah.

Aku inget banget, itu awal bulan mei, aku sampai di tokoku, Aura bilang, ibuk udah pulang tapi di atas aja karena ga enak badan (biasanya kalo siang ibuk selalu dibawah, bantuin jaga toko karena dia juga bosan diatas terus -toko dan rumahku model ruko 3 lantai). Aku naik keatas buat nemuin ibuk. Ibuk bilang dia jagain opung opname di klinik, makanya jadi sakit karena kecapean. Dan opungnya sekarang udah sembuh, makanya ibuk bisa pulang. Aku juga sempat tanya, kenapa opung ga di bawa ke rumah sakit aja, ibuk bilang engga berani karena pandemi gini.

Ibuk sakit terus, semingguan engga sembuh malah makin parah. Demamnya engga turun-turun dan setiap makan pasti muntah. Ibuk itu anti banget berobat, tapi suatu hari dia blg gini ke aku, pas aku ajakin dia berobat “ada ibuk-ibuk yg biasanya belanja sama ibuk di warung, udah lama engga kelihatan kak. Ibuk tanya ke yang punya warung, katanya ibuk itu udah meninggal, karena dia sakit tapi ga di bawa berobat, di diamin aja. Ibuk jadi takut kak. Jd tadi pagi ibuk langsung berobat ke klinik. Udah di suntik. Tensi ibuk juga tinggi kali kak.” Inti ceritanya, ibuk udah berobat pas aku mau ajakin dia berobat. Padahal biasanya dia anti sama berobat.

Lalu besok paginya karyawanku (yg tinggal bareng di ruko itu) ngabarin kalau ibuk kesakitan banget sampe nangis-nangis. Katanya kepalanya berat banget dan awalnya ga ada batuk, jadi batuk-batuk parah banget. Tapi karena kepagian dan aku belum bangun, aku ga angkat telpon. Dan karyawan2an ku bawa ibuk berobat lagi ke klinik yg lain lagi. Dan ibuk di suntik lagi dan di kasi obat yg beda lagi. Waktu siang aku ke ruko dan ketemu ibuk, dia bilang kalau kepalanya berat dan nafasnya sesak karena batuk. Tapi demamnya udh mendingan.

Situasi kayak gini ada dua harian. Demamnya tinggi lagi. Pusing di kepalanya tambah menjadi dan batuknya ga ada jeda. Awalnya ibuk masih bisa masak dan bersih-bersih rumah, tiga hari terakhir bener-bener cuma tiduran aja di kasur. Ayuna juga ga keurus. Akhirnya aku bawa ibuk ke rumah sakit besar (sama karyawanku juga, karena dia mulai demam dan batuk parah udah beberapa hari). Di rumah sakit, dokternya nyaranin buat PCR dan CT scan paru-paru, tapi taukan biaya PCR dan CT scan mahal banget apalagi di rumah sakit itu. Sementara berobat ibuk ini ga pake bpjs (rs nya emang ga terima bpjs). Akhirnya ibuk (dan karyawanku) cuma di infus aja sekitar sejaman dan di kasi obat makan. Aku bilang ke ibuk, PCR nya di klinik deket ruko aja karena lebih murah. Tapi pas pulang ibuk bilang, kalo dia bukan kena covid, tapi cuma kecapean aja karena habis jagain opung opname. Dan ibuk minta izin buat tinggal di rumah ibuk beberapa hari sampai sembuh, karena ibuk pengen di pijit (ibuk anti berobat dan anti kerumah sakit karena setiap sakit kalo di pijit pasti sembuh, dan opung emang tukang pijit yg udh biasa mijitin orang) dan biar Ayuna ada yg lihatin, karena ibuk pengen istirahat. Ibuk berangkat ke rumah opung besok paginya. Karyawanku bilang ibuk minta pesanin grab pagi-pagi banget.

Malamnya karyawanku yg kemaren berobat bareng ibuk tiba-tiba sesak nafas, dan dibawa ke rumah sakit sampai di pakein oksigen. Karyawanku ini PCR, dan hasilnya keluar dia positif covid.

Aku telpon ibuk, aku bilang si A positif covid, aku mau ibuk balik aja ke ruko, biar PCR juga kalo emang positif isolasi di ruko. Aku takut kalo ibuk juga positif nanti opung yang bahaya. Tapi ibuk mikirin Ayuna ga ada yang jaga kalo ibuk balik ke ruko. Dan ibuk bilang dia udah di pijit dan udah enakan. Sampai beberapa hari kemudian (3 atau 4hari sebelum lebaran) opung telpon aku, kata opung ibuk udah parah banget. Jadi aku langsung suruh abangku buat bawa ibuk ke rumah sakit (karena aku lagi sibuk sama restoku). Abangku bilang, kalo ibuk masuk icu khusus covid, jd ga bisa di jenguk atau di tungguin. Untungnya ada keluarga (sepupunya papa) yg kerja disana, jd semua kondisi ibuk, kami taunya dari kakak itu. Kakak itu bilang kalau kondisi ibuk parah banget, dan kami harus banyak-banyak berdoa.

Selama ibuk di icu, aku sempat telponan 2x sama ibuk. Pertama waktu itu minta di bawain air minum sama pampers. Jadi aku beliin kebutuhan ibuk + vitamin, aku titipin ke suster icunya. Terus 2 hari hp ibuk bener2 mati. Ku pikir habis baterai, aku minta tolong ke keluargaku yg kerja di rs itu buat charge-in hp nya ibuk. Dua hari kemudian hp nya ibuk aktif lagi (kelihatan dari last since w.anya, dan w.a aku ke dia juga udh di baca, awalnya cuma ceklis satu).

Trus di hari pertama lebaran pagi, ibuk chat aku, isinya gini “kak, tolong ibuk kak”. Aku baru bangun pas sejam setelah ibuk chat aku. Aku langsung telp, betapa hancurnya hatiku karena dengar suara mesin alat bantu yg di pasang ke tubuh ibuk (trauma karena saat-saat terakhir papa juga dengar suara itu), padahal dua hari yg lalu aku telp ibuk belum ada di pasang alat apa-apa. Kata sodaraku, kondisi ibuk emang udah parah banget sampe harus pake alat bantu. Karena aku ga begitu dengar suara ibuk, jd aku rekam, biar bisa di dengerin ulang, mana tau dia pengen sesuatu. Ibuk bilang, kalo ibuk udah ga kuat. Dadanya sesak. Dia bilang, tolong ibuk kak, ibuk udah ga kuat, sakit kali. Aku nangis, tp gamau ibuk dengar suara nangisku karena takut dia makin sedih dan sakit. Telponannya engga sampe semenit, karena aku ga tega, setiap ibuk ngomong, nafasnya terasa berat dan sesak. Jd aku gamau buat dia tambah sesak.

Dan sekitar jam 5 sore, abangku telp kalo ibuk udah ga ada. Lebaran pertama 2021 ini, hatiku hancur sehancur hancurnya. Ibuk, orang engga pernah terpikir bakalan secepat ini ninggalin aku. Tahun lalu, di bulai mei juga papa pergi, dan bulan mei tahun ini ibuk. Tepat di lebaran pertama. Gak ada yg  bisa kami kasi ke ibuk selain doa. Ga seperti papa dan mama yg bisa kami mandikan untuk terakhir kalinya di rumah, prosedur ibuk udah di urus sama rumah sakit. Kami cuma bisa ikutin prosedur yg ada, karena ibuk meninggal kena wabah. Di hari yg sama, malam itu juga, ibuk di makamkan di makam khusus covid. Kami cuma bisa ikutin ambulance yg bawa ibuk dr belakang sambil yasinan di mobil. Proses pemakaman juga kami cuma bisa lihat dari jauh, karena ga boleh turun kebawah. Lebaran pertama 2021, hatiku patah sepatah-patahnya. Tapi ibuk udah ga sakit lagi, udah ga sesak nafas lagi dan ketemu papa lagi. Buk, kakak sayang ibuk.

Gak cuma ibuk dan satu karyawanku yg positif covid. Sehari setelah ibuk meninggal, akupun positif covid. 2 orang karyawan yg lain (yg serumah sama ibuk, jd total 3 karyawan) dan abangku juga positif covid. Mengambil pelajaran dari ibuk. Begitu ngerasa ada sesuatu yg beda, kita langsung swab dan isolasi mandiri. Suamiku pas di swab negatif, tapi karena terus-terusan bareng samaku jadi dia juga ikutan isolasi. Dan alhamdulillah, kita udah sembuh semua sekarang. Udah beberapa bulan berlalu setelah itu, tapi masih parno karena takut kena lagi. Terutama di aku, belum sembuh luka hatiku di tinggal ibuk, dan fisikku harus sakit juga. Stay safe everyone.