Bisnis

Gue gak pernah bener-bener terjun dalam hal-hal berbau bisnis. Meskipun kadang-kadang kalau gue lagi senggang suka berangan-angan seandainya gue memulai usaha A lalu selanjutnya langkah-langkah apa aja yang harus gue lalukan untuk memulai lalu mengembangkannya, meskipun itu hanya hal-hal yang tiba-tiba lewat di otak, tapi setelah melakukan kesibukan lain, gue bakalan lupa sama hayalan tentang bisnis A tadi. Atau ketika teringat lagi gue udah lupa gimana caranya memulai seperti yang dulu pernah terpikirkan. Atau mungkin karena sudah nyaman dengan kesibukan yang sekarang?

Lalu disaat ada waktu senggang buat berhayal lagi, lagi datang pemikiran untuk gue memulai berbisnis. Lalu hilang lagi kalau udah sibuk dengan yang lain. Gitu terus berulang-ulang.

Keluarga gue, keluarga inti gue maksudnya, engga punya background yang bener-bener bisnis. Dari gue bayi yang gue ingat, papa kerja di proyek di tengah hutan, tempat gue tumbuh. Semulai gue TK mama udah punya jam terbang masak yang tinggi dari satu tempat ke tempat lain. Sampai akhirnya gue kelas 4 SD, papa pindah ke daerah proyek lain, dan kita sekeluarga selalu ikut pindah, mama engga masak di luar lagi. Mama mulai memberanikan diri buka warung kecil-kecilan. Lalu mulai ramai, mulai nambah karyawan yang kerja, sampe akhirnya mama udah mulai sakit-sakitan dan engga bisa menjalankan bisnis lagi. Gue kelas 2 SMP, mama dan Aura nyusul gue dan abang (yang udah duluan tinggal di Pekanbaru), untuk ikut tinggal di Pekanbaru juga. Cuma papa yang netap di proyek dan pulang seminggu sekali. Karena mama pindah ke pekanbaru, otomatis warung makan yang di proyek tutup. Tapi mama mulai jualan lontong dan sarapan pagi di area komplek perumahan kami dulu. Gak cuma itu, mama juga buka ketring buat tetangga-tetangga komplek yang kerja dan gak punya waktu buat masak. Alhamdulillah, masakan mama selalu di sukai orang. Tapi gak lama, karena mama mulai sakit-sakit lagi, akhirnya warung sarapan pagi pun tutup. Ketring pun engga jalan lagi.

Itu ingatan gue tentang bisnis keluarga gue yang engga bisa di bilang bisnis juga karena cuma warung kecil-kecilan.

Gue bener-bener belum bijak dalam mengelola keuangan. Begitupun papa. Dari mulai hidup berdua sama papa, papa selalu memberikan semua uang yang dia punya, baik penghasilannya setiap hari maupun uang dari warisan keluarganya ke gue untuk gue pegang. Dan di umur gue yang masih belasan, gue gak tau harus di apakan uang itu selain beli apa yang gue mau beli saat itu. Dan papa engga pernah ngelarang, karena dia pun juga gatau gimana cara mengelola uang. Dari dulu, semua keuangan di kelola sama mama. Dan gue gak sempat belajar itu dari dia. Jadi ketika di tinggal mama.

Disaat gue udah kerja dan punya penghasilan sendiri, penghasilan yang gue punya memang cukup untuk membiayai gue dan papa selama sebulan, sampai gue dapat gaji lagi, tapi gak pernah bisa untuk nabung. Padahal disaat yang sama, orang yang penghasilannya dan pengeluaran sama seperti gue masih bisa sisain buat nabung, tapi gue gak bisa. Mungkin emang gue yang salah me-manage-nya. Mungkin itu yang buat gue takut untuk benar-benar memulai bisnis. Karena gue masih belum bisa mengatur keuangan keluarga, apalagi mengatur yang skala bisnis.

Suatu hari papa bilang, dia pengen buka toko Laundry, karena daerah tempat tinggalnya belum ada toko Laundry. Dengan modal seadanya gue bantu mewujudkan impian papa itu. Gue berharap banyak sebenarnya dari buka toko laundry ini seenggaknya gue engga jadi sandwich generation lagi. Tapi rupanya engga segampang itu buat lepas. HIHIHI. Bahkan setelah tiga tahun bisnisnya berjalan, gue tetap masih kasih kiriman bulanan.

Kebalikan dari gue, suami gue orang yang paham banget soal keuangan, dan dia bijak banget dalam mengatur dan menggunakan uangnya. Dia hidup di lingkungan bisnis. Bukan bisnis besar memang, tapi dari kacamata gue yang melihat langsung kehidupan keluarganya di kampungnya sana, dari mulai oom, tante, sepupu, kakak, ipar sampe orang tuanya, semuanya punya usaha, minimal toko di rumah mereka. Dan dari semua orang di keluarganya yang gue kenal, cuma dia satu-satunya yang bekerja di perusahaan. Dan bahkan perusahaan tempat dia bekerja pun masih punya saudaranya. Makanya dari zaman masih pacaran, dia selalu bilang kalau dia pengen punya usaha sendiri, pengen sukses dengan usahanya sendiri, dan gak pengen selamanya kerja di tempat orang. Bahkan sampe udah nikah pun, masih itu yang selalu dia bilang. Dia sampe targetin berapa lama lagi dia kerja di perusahaan, sampai dia bener-bener kuat berdiri dengan usahanya sendiri. Sampai suatu hari, dia pengen buka usaha di kampung gue, Medan tercinta. Dan gue yang meng-handle semuanya. Sebenarnya ada rasa takut disini. Pun gue udah bilang ke dia kalau gue takut memulai karena takut gagal dan buat dia kecewa. Karena tau banget mimpi-mimpinya yang selama ini dia ceritakan ke gue. Role model dia engga tinggi-tinggi, cuma orang-orang di keluarganya yang punya usaha walaupun toko di rumah, tapi lanjut terus berpuluh tahun lamanya.

Di mulailah bisnis gue, yang bener-bener dari awal gue yang mengerjakannya. sekarang udah berjalan dua bulanan. Alhamdulillah, di bandingkan bulan pertama buka dengan bulan kedua ini, bisa di bilang di bulan kedua ini penjualannya naik 40%. Tapiiiii… Ada tapinya, pun pengeluarannya naik 50% dari pengeluaran di bulan pertama. Gue pusiiiiinnngggg. Sungguh pusing. Pun suami tau gimana pusingnya gue menghadapi bisnis ini. Segala macam cara dan ide untuk mengurangi pengeluaran udah di lakukan. Tapi mungkin emang dasarnya gue masih belum bisa tegas atau membatasi pengeluaran sana sini, jadi pengeluarannya makin besar. Padahal kurang bagus apa coba baru jalan dua bulan penjualannya udah meningkat 40%. Semangat Ciiiiiiii, semangaaaaatttttttt!

Oh iya! Bisnis gue emang meningkat dari awal bulan februari sampe seminggu terakhir kemaren. Tapi tiba-tiba menurun lagi yang gue yakini karena corona. Dan gue sadar, pengeluaran besar bulan ini juga karena beli masker dan hand sanitizer yang harganya selangit. Tapi mau gak mau di beli buat melindungi karyawan dan keluarga gue di medan. Semoga masalah ini cepat berlalu. Tetap semangat semua. Jaga kesehatan!